Bagaimana pun keadaan kita hari ini. Bersyukurlah. Allah masih memberikan kita kesempatan hidup. Hidup untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang lalu untuk tak akan diulangi lagi di masa depan. Hidup untuk belajar dari pengalaman masa lalu dan mengaplikasikannya di masa kini. Hidup untuk lebih berjaya, tak sedekar kaya harta dunia namun juga kaya hati dan jiwa.
Setiap hari selalu ada peluang untuk kita melenceng dari Rel ketaatan pada Nya atau tetap berdiri di Rel kebenaran itu. Bahkan setiap saat di hidup kita ada pilihan-pilihan kehidupan. Pilihan itu selalu hanya dua hal. Taat atau Melenceng dari rel Allah. Maka ketika hati kita membisiki kebenaran, turutilah. Paksalah diri untuk bertahan walau berat dan takut. Pun ketika dibisiki untuk melanggar, bertahanlah. Hakikat jalan kebenaran itu berliku, bertanjakan. Doa yang kita ucap di Al-Fatihah itu Jalan Lurus yang tentunya berhalang rintang namun tetap lah Lurus Bertahan Berketaatan.
Setiap manusia punya Masa Lalu. Cenderung pada dua hal. Bahagia atau Menyedihkan. Pada hal yang kurang mengenakkan manusia lebih sensitif dan dramatis. Dan pilihan-pilihan kehidupan ada pada manusia tersebut. Menerima atau menolak. Responnya terhadap masalah tersebut akan membentuk karakter nya di masa depan. Menerima dengan lapang dada, ikhlash, ridho akan membuat seseorang lebih bahagia dan tenang. Sebaliknya jika ia menolak ketetapan Allah di masa lalunya, kelak di masa depan ia terus dihantui ketidakberdayaan, rasa ketidakmampuan, takut gagal lagi, tidak percaya diri dan hal-hal negatif lainnya sehingga ia jalan di tempat. Cenderung menyesal, tak bahagia. Ya itu semua adalah pilihan- pilihan kehidupan.
Adalah Rahma. Gadis berumur 28 tahun itu kini sedang dalam perjalanan ke suatu tempat. Tempat yang dianggapnya salah satu tempat ternyaman di dunia. Bukan tentang dimana tempat nya. Tetapi tentang persaudaraannya. Bukan tentang tempat nya. Namun tentang ilmu-ilmu manfaat untuk menjajaki hidup di dunia sampai kelak di akhir masa. Setelah kepindahannya dan keluarga ke kampung halaman ibundanya, ia harus berjuang lebih dari biasanya menghadiri tempat yang nyaman itu. Ia harus berkorban waktu, tenaga, uang dan harus berkorban kebersamaan dengan keluarga. Hal yang sama bahkan pengorbanan yg lebih berat dari nya pun dialami sahabat-sahabatnya. Tapi ada sedikit yang berbeda dari Rahma. Ia meniatkan semua pengorbanannya ini untuk keberkahan dalam keluarganya. Ya, ia merasa sampai saat ini belum bisa membahagiakan keluarga terutama orangtuanya seperti kebanyakan orang tua lainnya. Dua hal yg saat ini dipikirkannya. Di usia nya sekarang, ia belum diamanahi pekerjaan untuknya bisa memandirikan diri tak lagi merepotkan orang tua (walau orang tua tak akan pernah merasa repot oleh anaknya). Dan tentang jodoh yang sejatinya menggalaukannya.
Kini Rahma duduk di atas bus kecil menuju tempat nyaman itu. Di Bus yang jarang sekali penuh penumpang itu, ia memandang ke kanan kiri menatap lekat hijaunya pepohonan menghiasai jalan. Sesekali ia sibuk komat kamit membaca dzikir pagi yang terlewatkan. Pikirannya menari-nari memikirkan bagaimana masa depannya nanti. Sampai saat ini, ia belum bisa berdikari atau bertemu pasangan hati. Bagaimana tidak galau. Walau sering ikut kajian, toh ia pun manusia biasa yang miliki fitrah ingin disayangi, ingin berdikari. Lihat foto-foto teman-teman seangkatan, junior menikah bahkan sudah punya anak bikin nyesek di hati nya. Kadang timbul rasa iri, muncul pikiran-pikiran kenapa dia belum diamanahi. Dilihat lagi di sosial media, teman-temannya sukses berkarir. MasyaaAllah ingin sekali berada di tempat tersebut. Namun di sisi lain Rahma juga mengerti, bahwa apapun yang terjadi bukanlah tanpa arti. Allah lebih tau diri hambaNya. Apa yang terbaik untuk hambaNya. Ia pun menyadari diri yang masih lambat dalam proses perbaikan diri. Terkadang ia menyalahkan diri. Egonya menghasut menyalahkan keadaan dan diri yang terlambat sadar bahwa waktu terus berjalan namun ia tetap stagnan.
Di sela-sela kegalauan nya Rahma tetap beraktifitas seperti biasa. Membantu pekerjaan di rumah yang ia bisa bantu. Ia lalui hari dengan rutinitas seperti itu lebih kurang 3 tahun. Ia sebenarnya bosan juga. Makanya saat orang tuanya membolehkan ia pergi ke tempat nyaman itu itu nampak bahagia.
Hari ini, hari terakhirnya bertemu sahabat-sahabat nya di tempat nyaman itu. Ia sedih. Tapi puncak sedih nya selalu terjadi ketika ada peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan hal tersebut terjadi, setelah jauh dari mereka. Maka saat itu ia akan menangis tersedu mengenang semuanya, sendiri.
Sahabat-sahabat nya di tempat zaman itu pun tidak percaya bahwa ia akan benar-benar tak akan datang lagi. Mereka membujuk untuk tetap tinggal. Namun ia meyakinkan, ia tak bisa lagi datang karena berbagai hal, salah satunya karena janjinya dengan ibundanya. Kini Rahma benar-benar akan "menghadapi takdirnya". Kehidupan baru di kampung ibundanya. Kehidupan baru tanpa bayang-bayang orang lain yang selalu setia membantunya. Iya, ia selama ini dimanjakan dengan bantuan, sokongan orang-orang yang menyayanginya. Hal tersebut baik, namun terkadang ia ambigu dalam berproses, selalu dibantu membuatnya tak berinisiatif untuk mengupayakan sesuatu, tak berupaya maksimal karena merasa masih bisa dibantu. Kini ia harus "Mandiri". Mandiri yang sejati. Mandiri yang tetap menggantungkan diri pada Ilahi.
Rahma melihat ke sisi kanan bus kecil yang berjalan perlahan membelah kota kecil ini. Ia sedikit ragu akan bisa menghadapinya. Begitulah, ketika sendiri pikiran-pikiran negatif itu bagai Valentino Rossi tanding. Begitu cepat. Selama ini, kebersamaan dengan sahabat-sahabat di tempat nyaman itu membuat "fitrah kepositifannya" muncul. Bersama yang positif. Bersama yang menguatkan. Kini ia harus berjuang dan membuktikan bahwa sendiri pun ia bisa lebih baik.
Rahma anak satu-satunya perempuan di keluarga. Orang tuanya lebih posesif padanya dibanding dua saudara laki-lakinya. Ia tak ingat jelas bagaimana ia dirawat sewaktu kecil. Perawatannya oleh tantenya sedikit banyak berpengaruh padanya. Ibu nya seorang guru yang tiap pagi harus berangkat pagi dan pulang di siang hari. Kebersamaan yang lama jarang terjadi dalam satu hari itu. Entah karena dimanja oleh tantenya, Rahma tumbuh menjadi anak yang pintar tapi lambat. Sehat tapi tak bugar. Baik tapi sensitif. Kalau ada masalah sedikit saja, ia sulit untuk tak marah. Emosional yang belum stabil. Sulit untuk mandiri, masih selalu memanggil Ibundanya bila ada keperluan. Sulit memutuskan, seakan hidup ini bukan miliknya sendiri. Takut tak berhasil sehingga tak bergerak, jalan di tempat. Tak terbuka. Sosok abangnya lah yang membuat Rahma yang kaku lebih sedikit terbuka. Baginya Abangnya penyemangat hidupnya. Bahagianya ia dianugerahi abang yang baik hati, lembut dan arif dan mengerti dirinya.
Rahma sebenarnya punya banyak mimpi. Ia pernah me list mimpi-mimpinya tersebut dan menempelkan nya di dinding kamar kos nya. Ia pernah membaca buku dan menonton video tentang Mimpi yang akan menjadi nyata bila dituliskan. Lebih tervisualisasi katanya. Tapi ya, seperti kebanyakan sang pemimpi Rahma tak cukup kuat berproses dalam meraihnya. Bukan tak ada yang tercapai, Rahma hanya belum membuktikan "kebenaran niat dan action nya" untuk meraih mimpi-mimpi mulia itu. Naik turun semangatnya dalam berproses. Apalagi ia tak punya seseorang yang benar-benar mengerti tentang apa yang diimpikannya. Ada abang nya yang bisa diajak diskusi. Namun ia belum berani menyampaikan.
(bersambung) InsyaaAllah.
#Allahsaja
#PejuangShalihah
#SebenarHijrah
Setiap hari selalu ada peluang untuk kita melenceng dari Rel ketaatan pada Nya atau tetap berdiri di Rel kebenaran itu. Bahkan setiap saat di hidup kita ada pilihan-pilihan kehidupan. Pilihan itu selalu hanya dua hal. Taat atau Melenceng dari rel Allah. Maka ketika hati kita membisiki kebenaran, turutilah. Paksalah diri untuk bertahan walau berat dan takut. Pun ketika dibisiki untuk melanggar, bertahanlah. Hakikat jalan kebenaran itu berliku, bertanjakan. Doa yang kita ucap di Al-Fatihah itu Jalan Lurus yang tentunya berhalang rintang namun tetap lah Lurus Bertahan Berketaatan.
Setiap manusia punya Masa Lalu. Cenderung pada dua hal. Bahagia atau Menyedihkan. Pada hal yang kurang mengenakkan manusia lebih sensitif dan dramatis. Dan pilihan-pilihan kehidupan ada pada manusia tersebut. Menerima atau menolak. Responnya terhadap masalah tersebut akan membentuk karakter nya di masa depan. Menerima dengan lapang dada, ikhlash, ridho akan membuat seseorang lebih bahagia dan tenang. Sebaliknya jika ia menolak ketetapan Allah di masa lalunya, kelak di masa depan ia terus dihantui ketidakberdayaan, rasa ketidakmampuan, takut gagal lagi, tidak percaya diri dan hal-hal negatif lainnya sehingga ia jalan di tempat. Cenderung menyesal, tak bahagia. Ya itu semua adalah pilihan- pilihan kehidupan.
Adalah Rahma. Gadis berumur 28 tahun itu kini sedang dalam perjalanan ke suatu tempat. Tempat yang dianggapnya salah satu tempat ternyaman di dunia. Bukan tentang dimana tempat nya. Tetapi tentang persaudaraannya. Bukan tentang tempat nya. Namun tentang ilmu-ilmu manfaat untuk menjajaki hidup di dunia sampai kelak di akhir masa. Setelah kepindahannya dan keluarga ke kampung halaman ibundanya, ia harus berjuang lebih dari biasanya menghadiri tempat yang nyaman itu. Ia harus berkorban waktu, tenaga, uang dan harus berkorban kebersamaan dengan keluarga. Hal yang sama bahkan pengorbanan yg lebih berat dari nya pun dialami sahabat-sahabatnya. Tapi ada sedikit yang berbeda dari Rahma. Ia meniatkan semua pengorbanannya ini untuk keberkahan dalam keluarganya. Ya, ia merasa sampai saat ini belum bisa membahagiakan keluarga terutama orangtuanya seperti kebanyakan orang tua lainnya. Dua hal yg saat ini dipikirkannya. Di usia nya sekarang, ia belum diamanahi pekerjaan untuknya bisa memandirikan diri tak lagi merepotkan orang tua (walau orang tua tak akan pernah merasa repot oleh anaknya). Dan tentang jodoh yang sejatinya menggalaukannya.
Kini Rahma duduk di atas bus kecil menuju tempat nyaman itu. Di Bus yang jarang sekali penuh penumpang itu, ia memandang ke kanan kiri menatap lekat hijaunya pepohonan menghiasai jalan. Sesekali ia sibuk komat kamit membaca dzikir pagi yang terlewatkan. Pikirannya menari-nari memikirkan bagaimana masa depannya nanti. Sampai saat ini, ia belum bisa berdikari atau bertemu pasangan hati. Bagaimana tidak galau. Walau sering ikut kajian, toh ia pun manusia biasa yang miliki fitrah ingin disayangi, ingin berdikari. Lihat foto-foto teman-teman seangkatan, junior menikah bahkan sudah punya anak bikin nyesek di hati nya. Kadang timbul rasa iri, muncul pikiran-pikiran kenapa dia belum diamanahi. Dilihat lagi di sosial media, teman-temannya sukses berkarir. MasyaaAllah ingin sekali berada di tempat tersebut. Namun di sisi lain Rahma juga mengerti, bahwa apapun yang terjadi bukanlah tanpa arti. Allah lebih tau diri hambaNya. Apa yang terbaik untuk hambaNya. Ia pun menyadari diri yang masih lambat dalam proses perbaikan diri. Terkadang ia menyalahkan diri. Egonya menghasut menyalahkan keadaan dan diri yang terlambat sadar bahwa waktu terus berjalan namun ia tetap stagnan.
Di sela-sela kegalauan nya Rahma tetap beraktifitas seperti biasa. Membantu pekerjaan di rumah yang ia bisa bantu. Ia lalui hari dengan rutinitas seperti itu lebih kurang 3 tahun. Ia sebenarnya bosan juga. Makanya saat orang tuanya membolehkan ia pergi ke tempat nyaman itu itu nampak bahagia.
Hari ini, hari terakhirnya bertemu sahabat-sahabat nya di tempat nyaman itu. Ia sedih. Tapi puncak sedih nya selalu terjadi ketika ada peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan hal tersebut terjadi, setelah jauh dari mereka. Maka saat itu ia akan menangis tersedu mengenang semuanya, sendiri.
Sahabat-sahabat nya di tempat zaman itu pun tidak percaya bahwa ia akan benar-benar tak akan datang lagi. Mereka membujuk untuk tetap tinggal. Namun ia meyakinkan, ia tak bisa lagi datang karena berbagai hal, salah satunya karena janjinya dengan ibundanya. Kini Rahma benar-benar akan "menghadapi takdirnya". Kehidupan baru di kampung ibundanya. Kehidupan baru tanpa bayang-bayang orang lain yang selalu setia membantunya. Iya, ia selama ini dimanjakan dengan bantuan, sokongan orang-orang yang menyayanginya. Hal tersebut baik, namun terkadang ia ambigu dalam berproses, selalu dibantu membuatnya tak berinisiatif untuk mengupayakan sesuatu, tak berupaya maksimal karena merasa masih bisa dibantu. Kini ia harus "Mandiri". Mandiri yang sejati. Mandiri yang tetap menggantungkan diri pada Ilahi.
Rahma melihat ke sisi kanan bus kecil yang berjalan perlahan membelah kota kecil ini. Ia sedikit ragu akan bisa menghadapinya. Begitulah, ketika sendiri pikiran-pikiran negatif itu bagai Valentino Rossi tanding. Begitu cepat. Selama ini, kebersamaan dengan sahabat-sahabat di tempat nyaman itu membuat "fitrah kepositifannya" muncul. Bersama yang positif. Bersama yang menguatkan. Kini ia harus berjuang dan membuktikan bahwa sendiri pun ia bisa lebih baik.
Rahma anak satu-satunya perempuan di keluarga. Orang tuanya lebih posesif padanya dibanding dua saudara laki-lakinya. Ia tak ingat jelas bagaimana ia dirawat sewaktu kecil. Perawatannya oleh tantenya sedikit banyak berpengaruh padanya. Ibu nya seorang guru yang tiap pagi harus berangkat pagi dan pulang di siang hari. Kebersamaan yang lama jarang terjadi dalam satu hari itu. Entah karena dimanja oleh tantenya, Rahma tumbuh menjadi anak yang pintar tapi lambat. Sehat tapi tak bugar. Baik tapi sensitif. Kalau ada masalah sedikit saja, ia sulit untuk tak marah. Emosional yang belum stabil. Sulit untuk mandiri, masih selalu memanggil Ibundanya bila ada keperluan. Sulit memutuskan, seakan hidup ini bukan miliknya sendiri. Takut tak berhasil sehingga tak bergerak, jalan di tempat. Tak terbuka. Sosok abangnya lah yang membuat Rahma yang kaku lebih sedikit terbuka. Baginya Abangnya penyemangat hidupnya. Bahagianya ia dianugerahi abang yang baik hati, lembut dan arif dan mengerti dirinya.
Rahma sebenarnya punya banyak mimpi. Ia pernah me list mimpi-mimpinya tersebut dan menempelkan nya di dinding kamar kos nya. Ia pernah membaca buku dan menonton video tentang Mimpi yang akan menjadi nyata bila dituliskan. Lebih tervisualisasi katanya. Tapi ya, seperti kebanyakan sang pemimpi Rahma tak cukup kuat berproses dalam meraihnya. Bukan tak ada yang tercapai, Rahma hanya belum membuktikan "kebenaran niat dan action nya" untuk meraih mimpi-mimpi mulia itu. Naik turun semangatnya dalam berproses. Apalagi ia tak punya seseorang yang benar-benar mengerti tentang apa yang diimpikannya. Ada abang nya yang bisa diajak diskusi. Namun ia belum berani menyampaikan.
(bersambung) InsyaaAllah.
#Allahsaja
#PejuangShalihah
#SebenarHijrah

Salam kenal mb
BalasHapusNice story 😍
Thanks for share 😊
Salam kenal juga mbk Mia👍
BalasHapus